Sunday, April 13, 2008

Roy Suryo vs Bloger

Undangan dan ke inginan Para bloger untuk berdialog langsung dengan ROy, kini bisa terwujud. Dan INi hasil dari pertemuan itu.

Isi tidak sedikit pun dirubah mengingat ini hasil karya seseorang. hehehehh
Sumber: http://dendemang.wordpress.com/

Roy Suryo: Membuat Blogger Positif Untuk Indonesia
Dialog terbuka antara Blogger dan Roy Suryo akhirnya digelar di ruang teater Budi Luhur dengan kapasitas 250 orang penuh. Kebanyakan penonton rupanya dari kalangan mahasiswa BL sendiri. Tidak banyak wajah wajah familiar yang bisa saya kenali.

Salah satunya adalah Wazeen dan Caplang yang pernah komen di Blog saya. Semula saya pikir Caplang itu nama minyak angin tapi ternyata memang kupingnya caplang… hehe.. hush.

AbimanyuRiyogartaAbimanyu Panca Kusuma seorang praktisi IT dan juga Blogger bertindak sebagai moderator. Riyogarta sebagai pembicara Blogger sejak awal memberitahu bahwa dia hanya mewakili pribadi dirinya dan tidak mengatasnamakan komunitas Blogger. Setuju.

Sebelum acara dibuka panitia mempersilakan Rektor Universitas Budi Luhur, Prof Ronny Nitibaskara, untuk memberi sambutan yang panjang dan membosankan. Maklum Pak Rektor ini Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia, jadi sambutannya panjang lebar seperti kuliah saja.

Beliau juga menyampaikan pesan salah satu mahasiswa bimbinganya yang katanya musuhnya Roy Suryo dan sedang menyelesaikan program doktornya untuk bidang Cyber Crime. Roy bilang kenal betul siapa Petrus dan mereka katanya berteman sekaligus bermusuhan (kok bisa yah?)

Setelah Pak Rektor selesai memberi sambutan, kemudian moderator Abimanyu memulai acara dengan perkenalan yang bertele-tele. Memang ada humor sedikit disana sini yang membuat penonton tertawa tapi sesunguhnya kami sudah tidak sabar menunggu acara dialog dimulai.

Roy Suryo dipersilahkan oleh moderator untuk memulai dan Roy menceritakan kenapa ia bersedia hadir, tak usah saya ceritakan detailnya karena rada retorik, terkecuali cerita tentang peran Mas Wicaksono sebagai penghubung diawal awal antara dirinya dan Riyogarta.

Dia juga maunya Mas Wicak ini yang jadi moderator tapi rupanya Ndoro Kakung ini jam 9 pagi belum bangun katanya. Roy bilang Mas Wicak itu guyon, tapi kalo orang yang gak ngerti guyonnya maka akan dibilang sombong, “kok untuk acara penting gini jam 9 belum bangun”, ungkap Roy memberi contoh ekspresi orang yang gak ngerti guyonnya Mas Wicak. Mungkin Roy mau protes sama Mas Wicak tapi dengan cara seperti itu.

Kemudian dialog dimulai dengan penjelasan dari Riyogarta tentang topik dialog semula bukanlah “Membuat Blogger Positif Untuk Indonesia”, judul topik tersebut adalah pilihan dari Roy Suryo. Kemudian Riyo melanjutkan dengan membuka slide situs detikINET yang memuat:

Siapa ‘mereka‘ yang dimaksud Roy? “Kelompok blogger dan hacker yang selalu bertindak negatif adalah pelakunya. Hal ini membuktikan, yang namanya blogger dan hacker Indonesia belum bisa mencerminkan citra positif,” tegas Roy kepada detikINET, Kamis (27/3/2008).

Riyo kemudian mempertanyakan apa masuk dari pernyataan tersebut, siapa yang dimaksud dengan “mereka”, kata Riyo.

Dimulai dengan cengar cengir yang khas, Roy kemudian menjawab bahwa sebuah media sering kali membutuhkan headline yang Eye Catching. Sehingga apa yang dia lakukan itu semata mata adalah sebuah teknik komunikasi. Itu intinya, kemudian ia melanjutkan dengan penjelasan yang panjang lebar dan berputar putar tentang hal hal yang menurut saya tidak terlalu berhubungan dengan pertanyaanya.

Demikian seterusnya pertanyaan demi pertanyaan diajukan dan dijawab dengan teknik yang sama, berputar putar yang sering kali diakhir putaran tidak menjawab pertanyaannya. Saya jadi geretan. Diperparah lagi oleh moderator yang menurut saya terlalu banyak mengambil waktu untuk menjelaskan sejarah media di Internet. Mohon maaf Mas Abim tapi ini suatu perasaan subyektif saja, siapa tahu yang lain malah seneng :-)

Ada satu poin penting yang disampaikan oleh Abimanyu disini yaitu ketika paparannya sampai pada Blog dimana Abimanyu mempertanyakan seberapa besar jumlah Blogger Negatif tersebut. Tapi itu bukan untuk dijawab Roy. Abim melanjutkan kembali paparannya hingga selesai.

Diskusi berlanjut lagi. Secara umum argumentasi dasar Roy adalah pers yang salah dalam mengutip pernyataanya. Salah satu contohnya pernyataan tentang Blogger tukang tipu. Penjelasan Roy sebenarnya panjang lebar tentang Blogger dan tidak semuanya jelek, cuma diakhir pernyataan dia memang bilang ada Blogger yang jadi tukang tipu. Nah lantas media mengutip hanya bagian akhirnya saja, sehingga mengundang reaksi dari para Blogger.

Ketika disanggah oleh Riyo bahwa wartawan sekelas Kompas dan Tempo kecil kemungkinannya untuk salah mengutip. Roy mengatakan bahwa ia orang yang apa adanya, jika A dia katakan A, jika B dia katakan B, dan dia bertanggung jawab dengan semua pernyataanya itu.

Riyo menyanggah lagi dengan mengatakan, aneh kalau salah kutip terjadi secara massal, biasanya kalau cuma satu media salah dan yang lain benar ada kemungkinan salah kutip yang satu itu.

Seperti biasa Roy melanjutkan dengan panjang lebar tentang sulitnya membuat pernyataan didepan wartawan agar mudah dikutip dan jelas. Dia tak bisa berbuat apa apa kalau memang wartawannya salah mengutip, contohnya dia diwawancara tentang teknik Flagging yang oleh wartawan keliru di kutip menjadi tenik Flaring. Kalau sudah begitu salah siapa katanya?

Dalam penjelasannya yang panjang lebar tersebut kemudian Roy sampai pada pembahasan mengenai keberadaan Blogger Negatif. Roy mengatakan adalah benar Blog itu sebuah media yang sangat bermanfaat tapi juga bisa berbahaya bila penulis Blognya tidak bertanggung jawab dengan tulisannya yang menjelek jelekan orang lain.

Kemudian Riyo mempertanyakan apakah Roy alergi dengan yang namanya Anonymous. Roy tersenyum manis lantas bilang itu kan menurut Mas Riyo saja. Seperti biasa Roy tak menjawab pertanyaan itu.

Sebelum sesi tanya jawab Riyo mempersembahkan hadiah berupa sebuah account blog dengan domain roy.suryo.info. Riyo kemudian membujuk Roy untuk mau menggunakan account blog itu untuk nulis bagaimana menjadi Blogger Positif atau paling tidak membuat klarifikasi atas semua pelintiran media atas dirinya.

Roy yang sejak tadi sudah memberi wejangan falsafah tentang menghargai pilihan orang lain dalam memilih media, kini berdiplomasi dengan mengatakan bahwa bagaimana dia memutuskan, itu soal pilihan tanpa mengatakan ya atau tidak.

Riyo kemudian menyergah dengan mengatakan Roy tidak usah banyak alasan, Roy telah memberi label Blogger Negatif sekarang tolong beri kami contoh bagaimana menjadi Blogger yang Positif. Diskusi menjadi memanas yang ujung ujungnya dilerai oleh moderator.

Kemudian sesi dilanjutkan dengan pertanyaan dari penonton. Pertanyaan demi pertanyaan dari anak Binus yang teleconference dan dari anak Budi Luhur. Kemudian ada satu pertanyaan yang membuat Roy mulai bernada suara agak tinggi.

BannerPertanyaan dari seorang Blogger bernama Syam yang mempertanyakan sikap Roy yang seolah olah kini mengkambing hitamkan PERS. Disaat yang sama Riyo membuka slide yang berisi postingan Blognya Ndoro Kakung yang ada Banner dengan tulisan “Jangan Kutip Roy Suryo Daripada Dibilang Salah Kutip“.

Roy mengatakan no problem buat dia wartawan gak mau ngutip dia. Roy malah bilang kalau memang begitu para wartawan sebaiknya mengutip Blog. Saya gak usah dikutip gak papa katanya. “Biarlah masyarakat yang mengakreditasi Blog Blog itu mana yang layak dikutip dan mana yang tidak”, lanjut Roy.

Menanggapi pertanyaan JaFF seorang wartawan yang menyampaikan keluhan Mas Koencoro di pertemuan Depkominfo kemarin bahwa label Blog itu negatif telah merusak citra Blogger sehingga ketika Mas Koen masuk kede desa, dipesantren pesantren mereka menolak materi Blogging karena menurut Roy Suryo, Blog itu adalah hal yang negatif.

Roy kemudian menjawab bahwa itu tergantung dari bagaimana cara kita memperkenalkan IT kepada para penduduk di desa desa, seperti biasa dia kemudian cerita panjang lebar tentang pengalamannya masuk pesantren, gereja dan wihara memperkenalkan IT.

***

Pertanyaan demi pertanyaan oleh penonton, jawaban demi jawaban oleh Roy, celetukan demi celetukan oleh Riyo dan paparan tentang Blog adalah sebuah pohon dari Abimanyu membuat saya mulai bosan dan merasa dialog ini tidak mengraha ke arahyang diinginkan semula.

Waktu mulai mendekati setengah dua belas, mau jumatan tapi Roy bilang mau sampai Adzan jug agak papa katanay dia mau ladeni terus dan senang bisa bertemu seperti sekarang ini. Dia juga cerita bahwa pernah bac di Blog ada orang yang rela potong kepala kalau Roy mau hadir dicara ini. Dengan bangga Roy bilang buktinya sekarang saya hadir.

Dialog Terbuka

Kemudian acara selesai, Riyo dam Roy bersalaman, penonton berfoto foto ria, wartawan mewawancarai. Roy keluar ruangan dengan senyum lebar diwajah, Riyo terlihat agak murung walaupun banyak yang memberi selamat atas terselenggaranya acara itu. Kata kunci yang sempat dilontarkan Roy adalah marilah sama sama kita mencerdaskan masyarakat.

Saya ingin sekali mengajukan pertanyaan sendiri tapi tidak ada kesempatan. Beruntung setelah sholat jumat saya diajak Riyo untuk makan siang di Rektorat. Ternyata Roy Suryo juga ikut makan disana sebelum berangkat ke KPPU.

Karena makan satu meja saya mengambil kesempatan itu untuk mengajukan pertanyaan pertanyaan yang tadi ingin saya sampaikan. Tapi memang momentnya tidak tepat karena kami semua sedang menyantap makan siang.

Tapi kelihatannya Roy mau meladeni setiap ada pertanyaan yang diajukan kepada dirinya oleh siapa saja yang hadir sambil makan. Disela sela itulah saya coba mengklarifikasi beberapa persoalan, antara lain:

Apakah Mas Roy akan menggunakan account dari Riyo untuk menjadikan Blog sebagai media klarifikasi pada media yang suka memelintir atau salah kutip?

Roy menjawab bahwa itu adalah pilihan, dia telah menyediakan media lain yaitu email dan sms. Roy bilang bahwa ia senantiasa membalas sms dari berbagai pihak yang ingin klarifikasi.

Apakah Mas Roy tidak merasa repot harus menjawab berkali kali suatu permasalahan yang sama dengan cara itu, sebab jika Mas Roy punya Blog maka itu cukup dilakukan sekali saja.

Kembali lagi ini soal pilihan, kemudian Roy menyantap nasinya dengan lahap.

Pada saat digedung tadi Roy sempat cerita tentang Blogger Negatif sebagai reaksi dari postingan di Blog yang mencerca dirinya sedemikian hingga para komentator ikut mencerca dengan kata kata kasar. Kemudian Roy mengatakan semua itu berawal dari dua orang Blogger yang tidak ia ketahui sebabnya selalu saja menyerang dirinya secara pribadi, dua orang Blogger tersebut adalah Priyadi dan Eko Juniarto.

Tapi saya tidak ingin frontal dan ingin memulai dari soal cerita Mas Koen yang mengalami kesulitan memasyarakatkan Blog karena ada stigma negatif yang disebarluaskan oleh Roy. Roy menjawab singkat bahwa itu aneh.

Kemudian saya ajukan pertanyaan:

Apakah Mas Roy menganggap cerita dari Mas Koen sebagai suatu yang tidak akurat, artinya Mas Roy mempertanyakan akurasi dari cerita Mas Koen itu?

Roy lalu menelan nasi yang sedang dikunyahnya lalu menerangkanb bahwa tidak demikian maksudnya dan menjawab yang persis sama seperti digedung tadi yang mengatakan bahwa itu tergantung dari bagaimana cara kita menjelaskan soal IT. Saya pikir permasalahan yang dialami oleh Mas Koen agak beda, yaitu soal stigma negatif Blogger dan bukan soal IT. Lantas saya kejar dengan pertanyaan,

…tapi kan citra Blog adalah negatif itu datang dari Mas Roy…

Belum selesai saya tanya, sudah dijawab, tapi itu kan pelintiran media. Kemudian Roy menjelaskan tentang kalau media memang tidak mau kutip dia yah gak papa, silahkan kutip yang lain. Lantas saya jawab:

Wah itu kok kesannya ingin menunjukan power bahwa bagaimanapun media nanti pasti akan balik kepada Mas Roy lagi…

Roy cuma tersenyum lalu bilang, ” itu kan menurut Mas aja toh?”.

Saya ingin sekali masuk ke pembahasan Priyadi dan Eko tapi ada wartawan yang kebetulan sedang ikut makan di ruang itu dan mengajuakn pertanyaan. Roy sambil makan menjawab pertanyaan wartawan itu.

Ada hal menarik dari Roy yang dikemukakan oleh Prof Ronny yang guru besar Kriminologi itu sebelum meninggalkan ruangan. Beliau mengatakan suatu fenomena dengan bahasa akademis, “Labeling Theori: Stigmanisasi”, (bener gak sih nulisnya?)

Teori itu punya premis bahwa seseorang yang terstigma dimata masyarakat akan cenderung menjadi begitu seterusnya. Jadi kadung sudah kepalang basah maka itu akan diteruskan. Saya gak tahu soal itu tapi ini menarik.

Semua kekisruhan ini berawal dari perseteruan antara Roy dengan (Eko dan Priyadi). Karena Eko dan Priyadi adalah Blogger dan dalam komunitas Blogger ada pengikut maka tercipta sebuah komunitas yang sepaham. Kesaksian Roy yang bilang bahwa banyak Blogger lantas ikut ikutan mencerca dirinya tanpa tahu bahwa apa yang dibacanya itu belum tentu benar, karena perlu klarifikasi.

Karena itulah Roy menuduh Priyadi dan Eko sebagai biang Blogger Negatif, karena menyebarkan paham yang mencerca dirinya. Kalau demikian maka persoalannya mulai bisa diisolasi. Akarnya adalah Blogger yang dianggap mencerca dirinya yang lantas diikuti oleh yang lain yang tidak minta klarifikasi tentang kebenarannya kepada dirinya.

Roy lantas mengangkat isu Blogger Negatif ini ke permukaan, tak sadar akan dampaknya secara luas. Jadi ini persoalan dirinya dengan beberapa orang Blogger yang tidak sepaham dengan dirinya. Dengan memilih judul topik “Membuat Blogger Positif Untuk Indonesia“, dapat dengan mudah dibaca.

Judul itu ingin mengesankan ada apa dengan Blogger Indonesia sehinga perlu dibuat menjadi Positif. Saya rasa Roy Suryo harus memaparkan data yang lebih masuk akal untuk dapat meyakinkan publik bahwa Blogger Indonesia sudah sedemikian negatifnya sehingga memang harus dibuat Positif. Memang ada Blog yang tidak berkualitas dan hanya omong kosong tapi apa perlu dibuat dikotomi Positif Negatif.

Terus terang cara cara seperti ini adalah metode politik yang dalam sejarahnya terbukti dipakai untuk melakukan pembersihan lawan politik. Dulu ada cap PKI untuk memberantas orang orang yang tidak bersesuaian dengan Orde Baru, orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan PKI bisa saja diberi cap PKI untuk dapat punya alasan menyingkirkannya.

Mungkin Roy tidak sadar telah melakukannya, karena itu saya meminta kepada Mas Roy untuk tidak lagi melakukan dikotomi Positif Negatif. Juga buat teman teman PERS untuk tidak mengutip istilah istilah yang membuat dikotomi itu menjadi termasyarakatkan.

Saya berpandangan akar masalahnya adalah perseteruan antara Roy vs Priyadi dan Eko. Karena itu dialog yang baru saja terjadi itu seperti tidak efektif untuk waktu yang lama. Nanti dikemudian hari akan ada friksi lagi, karena akar permasalahnya tidak dituntaskan.

Karena akar permasalahan adalah Roy vs Priyadi dan Eko maka saya mengusulkan untuk diadakan dialog yang diantara mereka. Riyogarta telah melakukan perannya semaksimal mungkin yang bisa ia lakukan. Tapi karena Riyo bukan bagian dari akar masalah maka sasaran yang bisa dicapai masih dipermukaan.

Klarifikasi tentang Blogger=Hacker, Blogger Negatif, Pelintiran Media dll, itu semua hanyalah akibat, bukan sebab. Mungkin dengan dialog hari ini bisa sedikit diredam tapi lain waktu akan muncul lagi masalah yang lain. Kalau bisa terselenggara dialog diantara mereka (Roy vs Priyadi dan Eko) maka saya rasa banyak masalah yang bisa terselesaikan.

Saya yakin Roy bersedia membuka diri untuk berdialog dengan Priyadi dan Eko. Saya yakin itu setelah bertemu dengannya. Saya juga yakin banyak pihak yang ingin melihat itu terjadi dan bersedia membantu.

Setelah menyelesaikan makan siangnya dengan lahap Roy Suryo lantas berangkat dengan senyum lebar diwajahnya. Tinggal saya, Riyo dan Mas Abimanyu yang melanjutkan obrolan seputar e-Commerce.

No comments:

Post a Comment