Showing posts with label Regional. Show all posts
Showing posts with label Regional. Show all posts

Monday, June 13, 2011

Gara - Gara Dengarkan Musik, 2 Karyawan Tewas Tertabrak Kereta

BEKASI, Berita Uptodate — Diduga akibat keasyikan mendengarkan musik, dua karyawan PT Multistrada Sarana yang bersahabat karib tewas tertabrak kereta api ekspres di lintasan Kaliulu, Desa Pasirtanjung, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Minggu (12/6/2011) malam.
Informasi dari Kepolisian Resor Kota Bekasi Kabupaten menyatakan, kedua sahabat yang tewas mengenaskan itu adalah Zaenal (19) asal Comal, Kabupaten Pemalang, dan Indra (19) asal Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Kedua kaki Zaenal dikabarkan putus. Kepala mereka pecah.
Menurut informasi petugas, seorang saksi mata melihat kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 18.30 WIB. Kedua sahabat karib tersebut diketahui merupakan karyawan pabrik ban PT Multistrada Sarana (Oroban).
Keduanya tertabrak saat asyik berjalan di tengah rel. Diduga mereka tidak mendengar ada kereta datang karena saat itu keduanya sedang mendengarkan musik melalui headset. Akibatnya, kedua pemuda tersebut dihantam kereta. Zaenal terpental, sedangkan Indra masuk ke kolong kereta.
Sejumlah warga yang ada di dekat lokasi dan melihat kejadian tersebut bergegas melapor ke Kepolisian Sektor Cikarang Utara. Warga juga membawa korban ke RSUD Kabupaten Bekasi di Cibitung.

Saturday, June 11, 2011

70% Kualitas Air Kali Jakarta Tercemar Limbah Domestik

JAKARTA, Berita Uptodate — Sebesar 70 persen kualitas air kali di Jakarta tercemar limbah domestik dan limbah rumah tangga. Hal ini disampaikan Kepala Subbidang Pelestarian dan Pemulihan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta, Prihatma, di sela kegiatan penelitian air Kali Pesanggrahan, kawasan Konservasi Bang Idin Villa Delima Cinere, Jakarta Selatan, Sabtu (11/6/2011).
"Limbah sungai mayoritas limbah domestik rumah tangga sekitar 70 persen," ujarnya
Prihatma mengatakan, dari 13 kali yang ada di Jakarta, pada tahun 2009 ada 66 titik pantau. Sementara itu, di tahun 2010 berkurang menjadi 45 titik pantau. "Mengurangi titik pantau untuk meningkatkan frekuensi pemantauan, agar lebih fokus," lanjutnya.
Dikatakan Prihatma, pemantauan ini dilakukan oleh BPLHD secara rutin setiap tahun. Caranya adalah dengan mengambil sampel air sungai, dianalisa di laboratorium, dan hasilnya diolah untuk didapat data kualitas air sungai. "Hasilnya dapat dijadikan sebagai perbandingan. Apakah terjadi perubahan atau tidak?," kata Prihatma.
Ia menjelaskan, jika hasil penelitian menunjukkan penurunan kualitas, pengendalian kualitas air sungai akan lebih diperketat. Terutama dalam pengawasan industri dan program sanitasi.
Pada hari ini, BPLHD melakukan penelitian pengukuran kualitas air Kali Pesangrahan yang melintasi kawasan Cinere di Sanggar Buana, Villa Delima, Cinere, Jakarta Selatan. Hasil dari pengukuran kualitas air Kali Pesangrahan yang menggunakan bioindikator dan fisika kimia sederhana ini akan diserahkan kepada Gubernur DKI pada 25 Juni 2011.

Sunday, April 10, 2011

Pressured to Indonesian Government Firmly in the Fight Against corruption

Indonesian laborers burn an effigy of a rat symbolizing corruption during a May Day rally outside the presidential palace in Jakarta, Indonesia, on Saturday May 1, 2010. Tens of thousands of workers thronged the streets of Asian cities Saturday in annual May Day marches, demanding job creation and minimum wage hikes. Writings on the effigy say "Corruptors Regime".

Pontianak - Breaking News: Constitutional Court Chief Mahfud MD urged the government here Saturday to remain serious in handling state officials’ corruption cases.
"Many corruption cases in Indonesia have yet to be handled properly partly due to lack of strict law enforcement," he said.
Mahfud said high ranking government officers were involved in corruption but their cases has remained unresolved. Referring to this reality, the government’s firm stance on combating corruption questioned, he said.
"During President Susilo Bambang Yudhoyono’s first term, the government was so serious in handling state officials’ alleged corruption cases," he said.
According to him, the president’s seriousness could be seen from the speed at which the president issued questioning permits. At the time, the questioning permits were issued within a maximum of two weeks, he added.
Corruption in Indonesia has remained a serious problem as shown by the outcome of annual corruption perception index (CPI) surveys. Referring to the outcome of the 2010 CPI survey conducted by Transparency International Indonesia (TII) released in October 2010, Indonesia’s CPI score remained at 2.8, unchanged from that of the previous year.
With the CPI score, Indonesia remained in 110th position out of 178 countries that 10 independent institutions had surveyed from January 2009 to September 2010, the TII activist, Todung Mulya, said. Indonesia’s position was only better than Myanmar’s but far left behind by Singapore, Brunei Darussalam, Malaysia and Thailand.
Muhammadiyah leader, Din Syamsuddin, said combating corruption needs concrete and serious action, not just a rhetoric. For Nahdlatul Ulama (NU) advisory council leader KH Masdar Farid Mas’udi, corruption was an unforgivable extraordinary crime.
"The impacts of corruption on a country are so extraordinary. Corruption is a big crime that can threaten a country’s life," Mas’udi said recently.