Apa Arti kematian Osama bin Laden bagi al-Qaeda, Pakistan, Afghanistan dan Barat?
Sumber: The Economist, 5 Mei 2011
Terbangun oleh dentuman memekakkan telinga dari baling-baling rotor, Haji Bashir Khan merayap ke atap rumahnya dan menonton, di bawah langit yang hangat dan tak berbulan, saat pasukan khusus Amerika menyerbu komplek tetangganya. "Ya, kami takut. Kami tidak memiliki masalah terorisme di sini," kata pengelola restoran setengah baya itu. Ia mendengar suara tembakan dan jeritan, kemudian merasakan sebuah ledakan bagai sebuah helikopter mendarat yang hancur. Ledakan itu memecahkan jendela kamar dan menaburkan serpihan-serpihan menghitam dari helikopter di lapangan gandum di dekatnya.
Haji Bashir dan yang lainnya di Abbottabad, sebuah kota garnisun (tempat pasukan) di utara Islamabad, mengatakan bahwa serangan yang menewaskan Osama bin Laden berlangsung selama 40 menit. Di sebuah ruang di Gedung Putih, di mana Barack Obama dan stafnya berkumpul untuk menonton laporan perkembangan, tampaknya berlangsung dalam waktu yang lebih lama. Tapi pada akhirnya – pada jam-jam dini hari tanggal 2 Mei waktu Pakistan - Seal AL Amerika menembak mati orang yang telah merencanakan pembunuhan hampir 3.000 orang pada 11 September 2001 dan pria yang menjadi pemimpin simbolis jihad global melawan Barat.
Penemuan ini bermula empat tahun lalu. Atas jasa informasi yang diperoleh dari hasil interogasi seorang tahanan, yang para petinggi mengenalinya sebagai salah seorang kurir Al-Qaedah yang dipercaya oleh Bin Laden. Dua tahun kemudian, mereka mengarahkan sasaran ke sebuah daerah di Pakistan yang disana dia pernah beroperasi. Tapi itu hingga Agustus mereka baru mengidentifikasi dengan seksama dimana pria ini dan saudaranya tinggal: di sebuah rumah besar yang dibangun tahun 2005 di pinggiran Abbottabad. Rumah itu dikelilingi dinding setinggi 18 kaki. Meski besar dan mahal, tidak ada telepon atau koneksi internet, dan sedikit jendela yang menghadap ke luar. Disamping dua orang bersaudara itu, masih ada keluarga ketiga yang tinggal di sana. Setelah analisa mendalam Amerika menyimpulkan bahwa keluarga itu juga masih bertalian dengan keluaga Bin Laden.
Pemerintah Pakistan, untuk menahan kemarahan publik dan serangan balas dendam, dengan muram menyatakan bahwa dia tidak mengetahui penyerbuan itu. Yang lebih sulit lagi untuk dicernai adalah klaim bahwa mata-mata Pakistan yang kurang tangkas tidak mengetahui bahwa bin Laden telah disimpan, mungkin selama bertahun-tahun, bukan di sebuah gua terpencil di perbatasan Afghanistan namun dalam buaian di pangkuan jenderal purnawirawan di lereng bukit kota kecil yang menyenangkan. Pakistan lebih memilih mengaku tidak kompeten, karena mengaku pada alternatif lain akan menjadi lebih menyakitkan; bahwa direktorat Inter-Services Intelligence (ISI), atau oknum-oknum di dalamnya, sudah lama menyembunyikan bin Laden dan para pemimpin Pakistan telah menerima pembunuhannya, hanya beberapa saat sebelum pembunuhan itu dilakukan.
Bagi banyak orang, ada penjelasan yang lebih mungkin. Dimana tinggalnya Bin Laden dalam waktu lama dengan banyak anggota keluarganya bergerombol dari Yaman, membutuhkan sebuah jaringan yang membantunya. Fakta bahwa dia memiliki beberapa pengawal di lokasi juga menunjukkan bahwa dia mempercayai beberapa orang untuk keamanannya. Warga biasa Abottabad secara regular harus menunjukkan KTP mereka.
Biasanya orang-orang ISI yang pandai bicara telah memberikan laporan kacau tentang sampai dimana mereka dan pemerintah. Presiden Pakistan, Asif Ali Zardari, mengaku tidak bersalah dalam sebuah artikel di Washington Post, dengan alasan bahwa Pakistan punya banyak alasan untuk membenci al-Qaeda dibandingkan negara manapun. Yang lebih menggelikan lagi adalah kebisuan Jenderal Ashfaq Kayani, panglima militer yang tangguh, yang sejak lama menyangkal bahwa bin Laden bersembunyi di Pakistan. Hanya pada 23 April lalu dia memoles omelan Amerika bahwa terlalu sedikit yang dilakukan untuk memerangi teroris, sambil mengatakan dengan gembira bahwa mereka akan segera dihajar. Semua lebih menyakitkan baginya, dia menyatakan hal itu di akademi militer Abbottabad, jarak yang begitu dekat dengan teroris paling dicari di dunia.
Bintang yang Redup
Sejak menghindari para pengejarnya di pegunungan Tora Bora Afghanistan pada November 2001, kelicinan bin Laden dalam menghadapi upaya Amerika untuk menemukannya telah menginspirasi para pelaku jihad di mana-mana. Di tengah keramaian medan terorisme Islam (masa pengejaran) itu juga mengawetkan al-Qaeda, organisasinya yang berkaki longgar, sebagai merek terdepan.
Namun dimasa lalu dan sekarang ada banyak celah dalam tampilan yang tampaknya berani ini. Menurut beberapa pengamat, al-Qaida berada di bawah tekanan berat: jumlahnya kian mengecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, kekurangan uang, dan jauh berkurang kemampuannya dalam menjalankan operasi besar melawan musuh yang "jauh" di Barat (bertentangan dengan musuh yang "dekat", biasanya didefinisikan sebagai negara-negara muslim yang korup). Dan di Timur Tengah, khususnya, bintang al-Qaeda telah lama redup.
Kematian Bin Laden membuktikan hal itu. Meskipun surat kabar di seluruh kawasan memberitakan di halaman depan mereka, dan acara TV mengoceh sampai larut menguraikan implikasi, namun daya tariknya segera memudar. Selain dari beberapa statemen syahid yang diposting di situs Web jihad, dan keluhan menyengat tentang penguburan bin Laden di laut yang melanggar tradisi Islam, namun sulit setitik airmata menetes atas kematiannya.
Tidak Bin Laden dan tidak juga Al-Qaedah pernah menciptakan daya tarik yang berkesinambungan bagi sesama sebagian besar orang Arab dan Muslim. Bagi banyak orang dia adalah seorang momok dan seorang kriminal, tidak hanya bertanggung jawab atas ribuan kematian demi membawa ketenaran yang buruk bagi umat Islam di mana-mana. Sebagian lagi menganggapnya sebagai tokoh romantis menantang, seorang pria yang, meskipun kebrutalan jelas pada metodenya, melabuhkan niat baik untuk membebaskan umat Islam dari kendali Barat. Namun bahkan bagi banyak pengagumnya, getaran melihat ekor singa Amerika dengan keras direnggut terbukti berumur pendek.
Seiring waktu berlalu, jelas bahwa tujuan dari jihad bin Laden – khususnya mengusir orang-orang kafir yang menduduki negeri-negeri Muslim – bukan semakin lebih dekat. Sebaliknya, cara kekerasannya malah semakin membuat Barat melangkah lebih jauh lagi masuk ke Irak, Afghanistan, mengokohkan dukungan Barat dari sekutu negara Muslim dalam perang melawan teror, dan ke Irak dan Afghanistan, didukung dukungan Barat untuk sekutu Muslim dalam perang melawan teror, dan memperparah keretakan umat Islam, seperti antara Sunni dan Shiah. Bahkan sebelum lonjakan yang terjadi tahun ini berupa revolusi populer yang mengaduk-aduk politik regional, al-Qaeda telah memudar ke pinggiran. Para pengikut bin Laden hanya berkembang di daerah terpencil, zona tak beranah hukum seperti pegunungan Yaman dan Pakistan, padang pasir Sahel dan tanah tandus di Afghanistan dan Irak, di mana yang membuat mereka terus bertahan adalah perlawanan terhadap invasi asing yang mereka sendiri telah membantu memprovokasinya. Para penjaga keamanan yang constant membuat para petingginya terus bersembunyi, tidak mampu berkomunikasi satu sama lain atau dengan dunia.
Akibatnya, "inti" al-Qaeda, kira-kira didefinisikan sebagai sisa-sisa organisasi yang dipimpin oleh bin Laden dan wakilnya dari Mesir, Ayman al-Zawahiri, yang menemukan perlindungan di wilayah suku Pakistan setelah pengusiran dari Afghanistan, berada dalam kondisi menyedihkan. Penempatan sejumlah serangan rudal oleh pesawat Predator yang dikendalikan CIA di kamp-kamp di Waziristan Utara telah berhasil membunuh banyak pejuang al-Qaeda dan para operatornya, beberapa diantaranyanya cukup senior, selama dua tahun terakhir. Serangan-serangan ini telah begitu efektif (setidaknya secara militer, dibenci oleh warga biasa Pakistan, yang terlalu sering menjadi korban yang tidak disengaja) sampai pada beberapa komandan al-Qaida membunuh satu sama lain, karena yakin mereka telah dikhianati dari dalam.
Sampai-sampai karena ketakutan bahwa komunikasi mereka terus dipantau hingga banyak sim-card hp yang kadaluarsa ditemukan berserakan di tanah sekitar kamp-kamp Alqaedah dan Taliban. Menurut sumber-sumber intelijen, sejak “menghilangnya” Zawahiri di akhir tahun 2009 masih belum ada lagi kabarnya. Para drone juga berhasil mengumpulkan sejumlah besar informasi real-time, yang telah memungkinkan Jenderal David Petraeus, komandan koalisi di Afghanistan, menggunakan pasukan khusus untuk menyerang basis Taliban dan al-Qaeda, di banyak kesempatan, malam hari. Estimasi terbaru menyebutkan bahwa keanggotaan aktif al-Qaeda di Afghanistan dan Pakistan sekarang berjumlah tidak lebih dari beberapa ratus, ditambah pejuang asing yang datang dan pergi.
(Bersambung)
No comments:
Post a Comment