Saturday, May 7, 2011

Timur Tengah, 2011-05-06

1. Hidup dan Matinya Bin Laden

2. Apa Yang Tersisa Dalam Hubungan AS-Pakistan pasca-bin Laden?

==================

1. Hidup dan Matinya Bin Laden

Oleh Basim Alam

Sumber: Aljazeera, 5/5/2011 M – 2/6/1432 H

Banyak yang besorak gembira, banyak pula yang marah, dan bertaburan analisia, pendapat yang beragam tentang pria ini yang memenuhi dunia dan menyibukkan banyak orang. Lebih jauh lagi bahkan ada kelompok yang menolak berita itu dan menganggapnya masih hidup, sebagaimana halnya "Saddam Hussein," yang akan muncul di satu hari, seolah-olah mereka melarikan diri dari kenyataan yang menyakitkan dan berimajinasi, berkhayal sambil meletakkan kepala mereka di dalam pasir mengingkari dan menolak kenyataan yang sebenarnya.

Ini bukanlah saat untuk yakin atau mencari keyakinan akan kebenaran berita dan bukan juga sesuatu yang mengharuskan kita bersedih atau senang dengan kepergiannya, karena bagi kita ada tanda-tanda hakekat yang kita harus perhatikan dan kita yakini apapun yang telah terjadi atau makhluk jenis apapun pria yang satu ini.

Kematian Osama bin Laden (semoga Allah merahmatinya) bukanlah hal yang mengejutkan dan tidak harus menjadi perkara yang diinkari, karena kematian adalah jalan yang harus dilalui oleh setiap makhluk hidup, baik dia dipandang sebagai seorang mujahid fi sabilillah ataukah sebagian orang memandangnya seorang teroris murtad, karena tabiat hubungan konfrontasi antara dirinya dengan kekuatan Barat menyeretnya ke akhir yang tak terelakkan ini.

Jika dia seorang mujahid maka ini bukanlah akhir bagi para mujahidin fi sabilillah. Telah meninggal dan mati syahid sebelum pria ini orang-orang pilihan, jika sebagian orang lainnya memandangnya sebagai seorang teroris murtad maka pemikiran semacam ini (yang diyakininya) tidak pernah dan tidak akan pernah habis dengan matinya seseorang, karena ia bukan dibangun di atas perjuangan orang tertentu saja.

Apa yang terjadi ini tidak lebih dari sebuah momen sejarah penting, tetapi yang pasti akan diikuti oleh banyak peristiwa besar yang penting dalam sejarah kita dan dunia kita di Arab dan Islam kontemporer.

Mungkin kematian pria ini lebih baik dan lebih mulia baginya dibandingkan dengan dia harus berakhir dibelenggu dan dipermalukan di dalam sebuah pengadilan yang dikelilingi benteng seperti yang terjadi pada Presiden Saddam Hussein (semoga Allah merahmatinya). Bahkan mungkin penguburannya di tengah kegelapan Laut Arab (meskipun itu dilakukan lantaran takut terciptanya makhluk simbolis dan bayangan ilusi jika ada tanah penguburannya atau mencegahnya dari dijadikan kuburan itu sebagai keramat) telah menciptakan sebuah fantasi simbolis dan emosional baik pendukung ataupun penentangnya, bahkan bagi bangsa-bangsa di atas bumi yang mendengar dan mengikuti pemberitaannya dengan penuh heran dan kagum ataupun marah dan benci. Dan saya yakin bahwa kejadian ini jika terjadi pada era Yunani Kuno niscaya dia dijadikan bagian dari filosof Yunani dan dinarasikan dalam Odyssey lain dan menjadi bagian dari epik sejarah yang diceritakan dari generasi ke generasi sampai hari ini.

Memperhatikan apa yang telah terjadi, sebagai upaya menganalisa data dan hasilnya, hal itu dilakukannya dari inspirasi, pemikiran, keyakinan penulis meskipun pandangannya merupakan sebuah pandangan analisis ilmiah yang netral, dan mungkin itu akan tercermin dari pendapat yang terurai berikut baik itu saya inginkan ataupun tidak.

Pertama: Kehadiran bin Laden menetap di Pakistan seperti jelas ditunjukkan melalui tempat tinggal, gaya hidup dan daerah yang ia tinggali (di mana berbagai versi melaporkan bahwa dia telah menetap di tempat itu sejak Agustus 2010 sampai dengan hari penyerbuannya) hanya saja mengungkapkan fakta yang mungkin kuat, yaitu figure paglima Usaman Bin Laden yang tidak bersinggunangan langsung dengan hakekat kerja lapangan dan juga manajemen strategis Al-Qaedah, bahkan saya dapat meyakinkan Anda bahwa pergeseran pemikiran yang tiba-tiba terjadi pada Osama bin Laden, yang tercermin dalam statemen-statemen dan paradigmanya, hanyalah merupakan hasil dari penenggelaman tanzim Alqaedah di dalam pemikiran Jihad Mesir setelah dia berjumpa dengan Dr. Ayman al-Zawahiri dan pengikutnya ke Afghanistan dan mereka dipaksa bergabung dengannya atas perintah Mullah Mohammed Omar, yang memerintahkan semua orang Arab berada di bawah satu bendera yang dipimpin oleh Osama bin Laden.

Disini Osama bin Laden menjadi tersandera oleh kehendak tanzim/ organisasi Jihad Mesir yang dipimpin oleh al-Zawahiri pada satu sisi, dan dari segi lain dari embargo global dan AS yang menjadikannya sebagai lambang terorisme dan kekerasan.

Karena tanzim/organisasi yang paling kuat bagi Alqaedah dalam hal harmonisasi pemikiran dan kualitas semangat jihad Bin Laden, adalah tanzim Al-Qaeda di Semenanjung Arab, Yaman, diikuti oleh Irak dan Maghreb Arab, para pengikut al-Zawahiri terpaksa tetap menjadikan Usamah sebagai kepala tanzim dan figure untuk menjaga para pengikut dan pengaruhnya melalui figure ini.

Kedua: Pembahasan kita ini membawa kita pada munculnya al-Zawahiri sebagai orang nomor-1 dalam tanzim Al-Qaeda, yang pada gilirannya secara bertahap atau langsung akan terjadi perpecahan nyata antara elemen-elemen tanzim dari satu sisi dan perpecahan sentral di sisi lain. Tanzim Jihad Mesir dengan berbagai elemennya dan kepemimimpinannya tidak akan diterima oleh semua pihak dalam Alqaedah, hal ini akan mengarah pada berakhirnya ikatan atau perpecahan nyata dan berdirinya satu kelompok atau beberapa kelompok baru yang muncul dengan kepemimpinan lokal atau regional. Di dalam semua keadaan tanzim ini (Alqaedah) akan kehilangan figurnya dan momentum media, jika tidak kehilangan mekanisme dan kemampuannya untuk melakukan konfrontasi dalam retorika dan aksinya pada fase saat ini. Ini akan menjadikan elemen-elemen regional dan lokal lebih mampu bermutasi dan beradaptasi dengan perkembangan baru secara intelektual dan taktis, sebagaimana yang telah kita lihat pada tanzim/organisasi Jihad di Mesir.

Ketiga: Sama saja apakah Osama bin Laden terbunuh pada bulan Agustus 2010 beberapa bulan yang lalu atau terbunuh pada hari diumumkan kematiannya, sesungguhnya waktu pengumuman itu sendiri dan pada tahap kritis ini di mana dunia Arab dan dunia Muslim sedang melewati implikasi penting yang tidak bisa diabaikan pada di tingkat regional dan global. Orang-orang yang mengikuti perkembangan opini dan pernyataan dari lembaga-lembaga penelitian dan think tank Barat akan menemukan pergeseran kualitatif dimulai dengan runtuhnya rezim diktator di Tunisia, di mana ia menjadi panggilan semua orang bahwa saatnya telah tiba untuk mengevaluasi bentuk politik barat secara umum dan Amerika secara khusus untuk berpihak pada hak-hak rakyat dan menanamkan kesungguhan dan niat tulus terhadap rakyat bukan kepada rezim (yang berkuasa). Hasil dari itu adalah urgesi diterimanya keinginan rakyat dan kehendaknya dalam menentukan nasibnya sendiri dan kemandiriannya secara efektif di dalam mengatur dirinya sendiri.

Ini berarti, tentu saja, naiknya arus Islam dan keniscayaan peraihan kekuasaan atau partisipasi aktif gerakan Islam dalam kekuasaan cepat atau lambat. Ini yang dipahami oleh kalangan pembuat keputusan di Barat dengan amat jelas tanpa ambiguitas, dan telah tercermin dalam perpanjangan saluran-saluran komunikasi dan dibukanya kembali dengan arus politik Islam di kawasan ini.

Kecenderungan baru ini dianggap kecenderungan yang dipaksakan, yang telah kehilangan semua investasinya sepanjang semua dekade yang telah lewat di kawasan ini, yang nampaknya akan hilang di tengah-tengah rezim/pemerintahan sementara. Dan agar Amerika Serikat dan Barat mendapatkan kembali kedudukan dan pengaruh mereka meskipun dalam bentuk parsial mereka harus condong bersama rakyat yang berevolusi (seperti yang terjadi di Mesir) dan mendukungnya (seperti di Libya) dan menerima hasil dari revolusi dan tunduk pada fakta eksistensi kelompok Islam sebagai kekuatan yang tangguh di arena politik Arab secara khusus dan dan Islam secara umum.

Ini adalah bottom line dan kendala utama yang dihadapi para pembuat keputusan dan kebijakan AS di bawah bayang-bayang opini publik nasional selama menjadikan bin Laden sebagai kambing hitam, dan membuatnya menjadi simbol syetan dan orang-orangan sawah untuk mempahitkan politiknya, dan ini yang mendorong Presiden Barack Obama mengumumkan sendiri berita pembunuhan bin Laden pada saat ini untuk memperoleh kredibilitasnya dan mandat populer yang nyata setelah lenyapnya figure syetan ini dari lapangan, agar menjadi pahlawan perang dan perdamaian.

Dialah yang melenyapkan syetan dan musuh terbesar Amerika Serikat dan tidak ada seorangpun yang bisa setelah itu utuk mengkritik niatnya, kegigihannya, ke-Amerikaannya dan keaslian agamanya dan nasionalismenya yang selalu menjadi bahan pertanyaan dan ejekan. Dimana hal ini akan memungkinkannya membuka halaman baru dengan Islam politik di Tunisia, Mesir, Suriah, Yaman dan Palestina dan lain-lain, tanpa dituding mengingkari darah korban Amerika dan darah tentara Amerika dengan cara apapun.

Bahkan akan memungkinkan baginya untuk menerima Taliban sebagai penguasa di Afghanistan, di mana permusuhan kepada Taliban dulu terkait dengan perlindungannya terhadap Bin Laden. Dengan demikian ia dapat menarik diri dari Afghanistan dan menyelamatkan mukanya dan keluar dengan tampilan pemenang, yang telah mencapai maksudnya dengan berakhirnya Bin Laden eksistensinya dan figuritasnya dimana penyerahan bin Laden merupakan persyaratan agar tidak ada invasi Afghanistan kala itu.

Keempat: Adapun Literatur terorisme dan perlawanan dan jihad, telah memperoleh banyak manfaat dari keberadaan Osama bin Laden sebagai figure/symbol yang digunakan oleh masing-masing pihak untuk kepentingan paradigmanya, terminologinya dan statememennya.

Kala ini dengan keluarnya bin Laden dari arena politik, meskipun jiwanya tetap mengayomi semangat untuk beberapa saat, dia telah memberikan kesempatan yang besar bagi gerakan perlawanan kerakyatan, baik itu perlawanan terhadap penjajahan atau revolusi melawan tirani dalam rangka untuk berangkat bangkit dengan kekuatan untuk menggapai tujuan mereka dan bekerja di dalamnya dengan aman dari stigma terorisme dan keterkaitan dengan Alqaedah, yang telah digunakan selama dua dekade terakhir bagi setiap yang menentang ketidakadilan dalam bentuk apapun.

Apapun kecenderungan dan niatnya, Rezim tiran tidak akan dapat dalam waktu dekat menuduh para revolusioner dan gerakan perlawanan bahwa mereka adalah Al-Qaeda, maka Pemerintahan Gaddafi tidak akan bisa membujuk Barat dengan klaimnya, dan pemerintah Yaman saat ini dalam perjalanannya merugi dalam tudingan ini, yang sebelumnya selalu untung, tapi mungkin Barat telah memutuskan untuk menarik kertas ini (tudingan Al-Qaedah) dari pasar lokal dan mengumumkan pembubaran massal politik atas barang-barang using yang tercermin di dalam rezim tirani yang sudah usang dipakai dengan telah tibanya barang baru yang memiliki rasa dan jiwa dan produksi lokal yang mandiri yang dapat diterima Barat yang tidak ada barang selainnya di dalam kondisi terburuk atau di pasar Barat dalam kondisi terbaik.

Semoga Allah merahmatinya; selama fase kehidupannya dan perubahan pemikirannya (yang kita setujui dan yang kita tentang padanya) dia adalah seorang yang konsisten dengan dirinya sendiri, jujur terhadap hati nuraninya. Seorang figure yang berpengaruh, baik dia berniat untuk itu ataupun tidak. Di dalam kehidupannya dan dalam sikapnya ada nilai bertingkat yang telah membuka banyak cakrawala dan menutup yang lainnya, sebagaimana pada kematiannya juga ada nilai bertingkat yang telah menutup banyak hal dan membuka banyak cakrawala. Dan Allah ada di belakang niat.


2. Apa Yang Tersisa Dalam Hubungan AS-Pakistan pasca-bin Laden?

oleh Huma Yusuf*

Sumber: Today’s Zaman, 4 Mei 2011, Rabu

Washington, DC - Pemandangan sukacita di Washington dan New York menyertai berita bahwa al-Qaeda Osama bin Laden telah tewas di tangan pasukan khusus AS pada hari Minggu.

Tapi di Pakistan, banyak yang tetap terpaku di depan televisi, sambil bertanya-tanya apakah arti dari event ini bagi keamanan dan kedaulatan negara mereka. Pembunuhan bin Laden memberikan sinyal kepada masyarakat Pakistan bahwa Amerika Serikat bisa bertindak secara otonomi dan impunitas (kebal hukum) di wilayah mereka. Namun, jika pemerintah AS mengakui dan mengalamatkan keprihatinan yang berlaku pada masyarakat Pakistan, kematian bin Laden bisa membuktikan sebuah point yang tinggi dalam diplomasi Amerika.

Bagi sebagian besar masyarakat Pakistan, berita kematian pemimpin teroris itu dibayangi oleh pertanyaan tentang apakah peran yang telah dimainkan oleh pemerintah dan militer negara mereka di dalam operasi tersebut. Dalam pidatonya kepada bangsa Amerika, Presiden AS Barack Obama menekankan bahwa " kerjasama kontraterorisme dengan Pakistan telah membantu mengarahkan kita ke komplek dimana bin Laden bersembunyi." Namun, para pejabat senior Gedung Putih bersikeras bahwa Amerika Serikat telah bertindak sendirian, dan bahwa pihak berwenang Pakistan hanya diberikan sinyal ketika operasi itu telah dimulai. Pada hari Selasa, Presiden Pakistan Asif Zardari menjelaskan bahwa penyerbuan itu bukanlah sebuah operasi gabungan.

Liputan media internasional telah memberi fokus pada kenyataan bahwa tindakan unilateral Amerika Serikat mengesankan kurangnya kepercayaan terhadap institusi keamanan Pakistan. Sebaliknya, operasi bin Laden telah semakin memperlemah kemampuan Pakistan untuk mempercayai Amerika Serikat dan keinginan-keinginan regionalnya yang telah dinyatakan. Penyerbuan (Bin Laden) itu berlangsung setelah terjadi rapat bulan lalu antara direktur CIA dan ISI (Badan Inteleijen Pakistan). ISI dilaporkan telah meminta CIA mengurangi jejak kakinya di Pakistan, dan menuntut pengawasan yang lebih luas lagi terhadap berbagai operasi intelijen AS di tanah Pakistan.

Dalam beberapa bulan terakhir, para pejabat AS telah berhenti memberikan peringatan terlebih dahulu kepada Pakistan dalam berbagai penyerbuan drone terhadap kaum militant di daerah-daerah tribal. Selain itu, masyarakat Pakistan masih belum sepakat (berdamai) dengan penahanan dan lalu pembebasan Raymond Davis, seorang sewaan CIA yang menembak dan membunuh dua orang Pakistan di Lahore pada bulan Januari tahun ini.

Anggapan bahwa Amerika Serikat dapat bertindak secara impunitas (kebal hukum) di Pakistan akan menjadi bahan bakar bagi rasa tidak aman. Pada beberapa jaringan sosial, warga Pakistan banyak yang bertanya apakah pembunuhan bin Laden merupakan "permulaan dari endgame di Pakistan," dengan kata lain, apakah itu akan menjadi awal dari konfrontasi terbuka daripada kerjasama antara Amerika Serikat dan Pakistan. Mereka takut bahwa satu serbuan unilateral di dalam territorial Pakistan hanya akan mengantarkan kepada penyerbuan berikutnya; Sebuah pernyataan pada hari Senin oleh Ketua Komite Intelijen DPR AS Mike Rogers bahwa setidaknya ada selusin pemimpin senior al-Qaeda yang berbasis di Pakistan telah membuat banyak orang bertanya-tanya apakah Amerika Serikat sedang mempersiapkan serangkaian penyerbuan yang akan melanggar kedaulatan nasional Pakistan. Kekhawatiran ini diperparah oleh pengangkatan Jenderal David Petraeus baru-baru ini sebagai direktur CIA, Jenderal ini telah secara tegas mengkritik Pakistan dengan alasan Pakistan memiliki hubungan dengan kelompok militan dan memberikan toleransi bagi tempat persembunyian mereka yang aman.

Jelasnya, masyarakat Pakistan sama-sama prihatin dengan situasi keamanan dalam negeri mereka. Mereka takut pada serangan balasan, yang Taliban telah bersumpah untuk melancarkannya hanya beberapa jam setelah berita tewasnya bin Laden.

Banyak juga terkesima oleh kenyataan bahwa bin Laden ditemukan di Abbottabad, rumah bagi pangkalan militer Pakistan dan Akademi Militer bergengsi Pakistan. Fakta bahwa pemimpin teroris bisa bersembunyi di hadapan mata telanjang institusi keamanan Pakistan merupakan sesuatu yang mengkhawatirkan. Kemungkinan lain - bahwa bin Laden telah dilindungi oleh badan-badan intelijen Pakistan – ini bahkan lebih mengerikan, mengingat bahwa lebih dari 30.000 warga Pakistan telah tewas dalam serangkaian serangan teror dalam beberapa tahun terakhir.

Melihat situasi yang rentan yang skarang brlaku di Pakistan, ini bukanlah waktu bagi keberhasilan Amerika. Memang, jika ditangani dengan benar, kematian bin Laden bisa menjadi titik tolak dalam hubungan bilateral yang goyah. Itu dapat menjadi kesempatan bagi peningkatan transparansi dalam hubungan AS-Pakistan sebagai modalitas dimana operasi itu dijelaskan, dan sebagai pengingat bahwa sementara prioritas strategis dua sekutu kawasan tersebut menyimpang, mereka tetap masih saling melengkapi. Dan jika, seperti yang telah disarankan, kematian bin Laden bisa memfasilitasi rencana AS untuk menarik diri dari Afghanistan, ini juga bisa menjadi waktu kolaborasi belum pernah terjadi sebelumnya antara Washington dan Islamabad.

* Huma Yusuf adalah seorang jurnalis dan peneliti dari Karachi. Dia saat ini adalah ilmuan Pakistan di Woodrow Wilson International Center for Scholars di Washington, DC Sumber: Common Ground News Service (CGNews).

No comments:

Post a Comment